Johor, Perajin Tangguh dari Padangpariaman yang Menyulap Ban Bekas Jadi Rupiah
iNews Pariaman– Di tengah gemuruh modernisasi yang mendorong masyarakat menuju gaya hidup serba instan dan baru, sosok Johor (50) bagaikan sebuah benteng yang kokoh menyimpan warisan. Di kediamannya yang sederhana di Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman, pria ini dengan penuh ketekunan menyulap barang-barang yang dianggap banyak orang sebagai sampah—ban bekas—menjadi karya bernilai jual tinggi: pot bunga yang unik, buayan (ayunan) yang kokoh, hingga tanggul karet untuk keperluan industri.
Bagi Johor, ini lebih dari sekadar pekerjaan; ini adalah sebuah legasi. Usaha yang digelutinya sejak remaja ini diwariskan langsung dari sang ayah, yang dahulu adalah pelopor pengrajin ban bekas di kampung mereka. “Dulu bapak saya yang pertama kali membuat. Saya hanya melanjutkan. Hidup saya dan keluarga dari usaha ini,” ujar Johor dengan nada bangga, pada Selasa (14/10/2025), sementara tangannya lincah memegang pahat dan palu.
Dari Limbah Menjadi Karya: Proses Kreasi yang Penuh Ketelitian
Proses transformasi ban bekas menjadi barang bernilai seni dan guna membutuhkan ketelatenan yang luar biasa. Johor memulainya dengan memilah ban-ban bekas berkualitas baik, yang masih memiliki struktur karet yang kuat. Kemudian, dengan menggunakan peralatan sederhana seperti pahat khusus, palu, dan pisau tajam, ia mulai mengukir dan membentuk ban tersebut.
Setiap goresan dan potongan dilakukan dengan presisi, mengubah bentuk ban yang monoton menjadi pola-pola lengkung yang indah pada pot bunga, atau anyaman yang kuat pada buayan. “Untuk satu pot atau buayan, paling setengah jam sudah jadi. Tidak sampai satu jam,” ujarnya, menunjukkan efisiensi yang ia kuasai setelah puluhan tahun berpraktik. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan beberapa pot dan buayan, tergantung kompleksitas permintaan.

Baca Juga: Sebuah Terobosan untuk Petani: BUMDes Koto Marapak Luncurkan Oven Gabah Pertama di Pariaman
Produk hasil tangannya dikenal tidak hanya estetis, tetapi juga sangat fungsional dan tahan lama. Kekuatan bahan karet ban membuat pot dan buayannya tidak mudah retak atau rusak diterpa cuaca, sehingga menarik minat pembeli dari berbagai daerah.
Permintaan Stabil Hingga Melintas Kabupaten
Tengah Kesuksesan Johor tidak hanya terletak pada keterampilannya, tetapi juga pada pasar yang ia bangun. Ia menjual produknya dengan harga yang terjangkau dan bervariasi, menyesuaikan dengan ukuran dan kerumitan model. Sebuah buayan dibanderol sekitar Rp 50.000 per unit, sementara pot bunga dijual antara Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Untuk tanggul karet, satu ikatnya dihargai Rp 35.000.
Yang membanggakan, meski usahanya berskala rumahan, permintaan terhadap karyanya selalu stabil dan bahkan meluas. “Alhamdulillah selalu ramai. Pesanan sudah sampai ke Pesisir Selatan, Bukittinggi, Pariaman, sampai Lubuk Alung. Banyak pelanggan yang datang langsung ke sini untuk menjemput barang,” ceritanya dengan penuh syukur. Kepercayaan dari pelanggan inilah yang menjadi motor penggerak semangatnya.












