Festival HAN 2025 Digelar Meriah
Festival Hari Anak Nasional (HAN) 2025 di Padang Pariaman berlangsung penuh semangat dan kegembiraan. Masyarakat dari berbagai daerah hadir untuk meramaikan acara yang menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak ini.
Dinsos P3A Padang Pariaman memilih tema pelestarian budaya lokal sebagai fokus utama tahun ini. Tema tersebut dianggap relevan untuk memperkuat jati diri generasi muda.
Sejak pagi, area festival dipadati anak-anak, orang tua, pendidik, hingga komunitas pemerhati anak. Suasana yang hangat membuat acara terasa hidup dan inklusif.
Lomba Cerita Rakyat menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian. Anak-anak tampil dengan penuh percaya diri, membawakan kisah daerah yang sudah jarang diperdengarkan.
Panggung yang dihias dengan ornamen tradisional menambah nuansa budaya Minangkabau dalam setiap penampilan peserta.

Baca Juga : Sertifikat Indikasi Geografis untuk Sulaman Kapalo Peniti: Pariaman Bangga Lestarikan Warisan Budaya
Lomba Cerita Rakyat, Ajang Kreativitas Anak
Lomba Cerita Rakyat dirancang untuk memperkenalkan kembali legenda Minangkabau yang sarat nilai moral. Banyak peserta mengangkat kisah klasik seperti Malin Kundang atau Anggun Nan Tongga, namun dengan sentuhan kreativitas baru.
Setiap peserta tidak hanya bercerita, tetapi juga menampilkan visualisasi menarik menggunakan kostum buatan sendiri. Hal ini membuat penampilan mereka semakin hidup dan memukau.
Panitia menjelaskan bahwa tujuan lomba bukan semata meraih juara. Kegiatan ini juga bertujuan menanamkan kecintaan pada budaya daerah sejak dini.
Anak-anak yang berpartisipasi terlihat sangat antusias. Mereka mempersiapkan ceritanya melalui latihan yang melibatkan guru dan orang tua.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk berlatih berbicara di depan umum, mengembangkan imajinasi, serta meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Dinsos P3A Dorong Pelestarian Budaya dan Pendidikan Karakter
Kepala Dinsos P3A Padang Pariaman menyampaikan bahwa pelestarian budaya tidak boleh terputus di era digital. Karena itu, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini kepada cerita rakyat yang mengandung pesan moral mendalam.
Melalui kegiatan seperti Festival HAN 2025, pemerintah daerah ingin menyeimbangkan perkembangan teknologi dengan pelestarian budaya leluhur. Langkah ini dianggap penting untuk membentuk karakter yang kuat dan berakhlak.
Orang tua juga diajak aktif mendampingi anak selama festival. Pendampingan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi setiap peserta.
Selain lomba, festival ini juga menyediakan ruang bermain ramah anak dan zona edukasi tentang perlindungan anak. Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas interaktif sepanjang hari.
Penampilan seni daerah yang ditampilkan oleh sekolah-sekolah menambah warna dalam festival. Acara ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi anak-anak.
Dengan berakhirnya festival, masyarakat berharap kegiatan serupa dapat terus digelar setiap tahun. Lomba Cerita Rakyat dinilai sebagai kegiatan efektif untuk menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.












